Istiqomah Di Jalan Allah SWT

Mungkin kita sering mendengar doa yang berbunyi “YA MUQOLLIBAL QULUB TSABBIT QULUBANA ‘ALA DIINIKA”. Kita sadar, bahwa tidak ada yang berani menjamin keimanannya masih tetap bertahan hingga akhir hayat. Tipu daya setan amatlah kuat, oleh karenanya merupakan sebuah keharusan bagi kita untuk selalu meminta pertolongan kepada Allah SWT agar kita selalu dijaga dari kemusyrikan dan tetap teguh dalam memegang keyakinan akan ke-Esaan Allah SWT.

Diceritakan bahwa dahulu, Rasulullah SAW pernah bersabda didalam sebuah halaqah ta’lim dimana terdapat salah satu sahabat masyhur yaitu Abu Hurairah r.a., beliau bersabda “Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”

Ketika itu para sahabat yang berada dihalaqah tersebut sangatlah takut jikalau hal tersebut menimpa diri mereka. Hingga ajal menjemput Rasulullah SAW, dan kepemimpinan islam jatuh di tangan Abu Bakr r.a., dari seluruh sahabat yang berada dalam halaqah tersebut hanya tersisa dua orang saja, yaitu Abu Hurairah r.a. dan sahabat Ar-Rajjal bin Unfuwwah. Sahabat Abu Hurairah selaku perawi hadits tersebut semakin ketakutan. Dia takut akan nubuwwah Rasulullah SAW yang bisa jadi, ditujukkan kepadanya lantaran seluruh sahabat yang menghadiri halaqah tersebut meninggal dalam keadaan syahid.

Hingga tersiar kabar bahwa salah satu petinggi bani Hanifah, sebuah suku yang berdomisili di Yamamah, yang bernama Musailamah bin Habib mengaku sebagai nabi sehingga ia mendapatkan julukan yang sangat masyhur yaitu Musailamah Al-Kadzdzab (Musailamah Sang Pendusta).

Ketika itu, Ar-Rajjal merupakan sahabat yang terpandang di Yamamah. Setiap perkataannya bagaikan sihir yang dapat membuat setiap orang terpana seakan-akan terhipnotis oleh perkataannya. Dia juga merupakan seorang negosiator ulung yang dapat menarik hati setiap orang yang ia ajak bicara. Namun sangat disayangkan, fitnah yang telah dita’wilkan oleh Rasulullah SAW sebelumnya ternyata jatuh menimpa dirinya. Dirinya terlena dengan ke-fanaan dunia dan juga kepiawaian Musailamah Al-Kadzdzab dalam menyebarkan tipu muslihatnya keseluruh penduduk Yamamah tak terkecuali sahabat besar seperti Ar-Rajjal.

Sahabat Abu Hurairah r.a. seketika bergembira sekaligus sedih di kala mendengar kabar tersebut. Dia bergembira karena apa yang Rasulullah SAW sabdakan tidak jatuh menimpa dirinya, namun ia juga bersedih bahwa kawan seperjuangannya, Ar-Rajjal, jatuh dalam jurang kekufuran bersama Musailamah Al-Kadzdzab.

Ar-Rajjal bin Unfuwwah, saat dirinya berada didalam kubu Musailamah, ia merupakan salah satu dari orang-orang gagah berani dibarisan terdepan ketika peperangan Yamamah berkecamuk yang dimana pasukan kaum muslimin, dibawah komando Khalid bin Walid, menyerbu Yamamah untuk memberantas kemurtadan yang terjadi disekitar Madinah. Dia, Ar-Rajjal, mati dalam keadaan su’ul khatimah didalam barisan kaum murtadin.

Dapat diambil pelajaran, dari kisah diatas, bahwa seluruh umat muslim, tak ada yang bisa menjamin mereka dapat mempertahankan keimanan mereka hingga akhir hayat.

(Dinukil dari pengajian reboan bersama ustadz Saiful Ulum pada hari rabu, 03/10/2018)

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.