TRAVELER MUSLIM KELILING 120 NEGARA, MAMPIR KE DAARUL UKHUWWAH.

Seorang muslim traveller dari Saudi Arabia telah membuat kagum Para santri Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah. Pasalnya, beliau menyampaikan secuplik Muhadharah tentang bulir-bulir keindahan dari penjelajahannya yang telah menyusuri kurang lebih seratus dua puluh negara dalam waktu tempuh berkisar antara tiga puluh hingga tiga puluh lima tahun.444

Malam itu, Hari Senin(22/02), Santri-santri yang sebelumnya dalam keadaan setengah sadar mulai antusias mendengarkan sepenggal kisahnya yang mampu menyihir puluhan pasang mata terlelap layaknya mendongeng. Adventurer yang bernama Wail bin Abdul Aziz Al Daqfaq ini berazzam ingin menggunakan sisa umurnya mencontoh jejak para ulama dan anbiyah beserta para sahabat untuk mencari karunia-Nya yang tersebar dimuka bumi ini, dengan landasan Firman Allah :

قُلْ    سِيرُوا۟    فِى    الْأَرْضِ    ثُمَّ    انظُرُوا۟    كَيْفَ    كَانَ    عٰقِبَةُ    الْمُكَذِّبِينَ   -الأنعام:١١

Di antara muhadharahnya, beliau menyampaikan cerita yang bagi beliau sangat mengesankan. Ceritanya ada disuatu pegunungan di daerah Tibet. Dengan ketinggian 4000 – 5000 m diatas permukaan laut. Ketinggian dengan sedikit sekali kapasitas oksigen untuk bernapas. Kala itu beliau ingin bermalam disebuah hotel yang dimana pemilik hotel tersebut beragama buddha. Heran tak terduga, Musafir muslim ini terkejut atas toleransi dari Si Pemilik Hotel. Si Pemilik hotel ini begitu baiknya menyambut serta melayani beliau.Hingga syeikh Wail pun  mengira ditengah keterbatasan oksigen tersebut, lingkungan yang masih asing menurutnya itu akan tidak bersikap ramah kepada beliau. Namun jauh jauh pikirannya itu beliau tepis kala segala sesuatu yang beliau butuhkan tersedia. Syukur Alhamdulillah.555

Ternyata Pegunungan itu merupakan dataran tinggi yang wilayahnya meliputi daerah otonomi Tibet dan provinsi Ladakh di Kashmir. Yang dimana mayoritas penduduknya beragama Buddha. Namun agama lain seperti Islam juga berkembang di Tibet. Latar belakang keramahan penduduknya terasa sampai saat itu juga. Dimana dulu terdapat suatu kejadian ketika musafir muslim diberi beberapa petak lahan untuk dibangun masjid, yakni dengan cara melempar busur panah ke suatu tanah . Maka jarak tanah yang ia pijak hingga yang terkena busur panah adalah  tanah yang diberikan. Ini merupakan tanda begitu baiknya toleransi penduduk Tibet, yang berbatasan dengan Myanmar, India, Nepal, dan Bhutan.

Begitu banyak pelajaran yang mestinya beliau bagi kepada kita. Salah satunya adalah cara kita bersikap kepada orang lain walau berbeda ras, suku, dan agama. Memang sepatutnya bagi muslim untuk bersikap lemah lembut dalam kehidupan sehari hari dan keras dalam beragama. Semoga kita bisa mencontoh beliau dan mengambil hikmah dibalik perjuangan mencari ridhoNya. Amiin.

Penulis : Aorta Abdillah A’la

Admin : DAJ

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.