Scout Rank Test in Story…

DSCF7830
Kami tiba di depan makam pahlawan, beberapa meter sebelum buper.

“Ayo ke atas… Qadim nantadhir…” “Laa! kita harus nuruti perintah!” “Qola Pandu laa buda qobla Dzuhur.” Kudengar teman-temanku asyik berbincang. “Paling juga masih lama.” Pikirku. Kututup mataku dengan topi LP3 milik Akh Ulul yang kupinjam. Sekarang jam 11, belum Dzuhur. Itu berarti kami berdelapan belas tepat waktu, sesuai perintah pimpinan. “Kumpul dulu di depan kuburan, jangan ke atas dulu, sebelum Dzuhur harus sudah di sana, ok!” Kata-kata Pandu anak Betawi itu selalu tampak serius, meskipun sering bercanda.

“Mungkin jalan jauh dia.” aku ber-husnudzan. Sembari kuberbaring di atas banner, kutinggalkan teman-temanku bercanda, aku harus menghemat energiku.

Pandu dan 5 orang lainnya datang jam setengah satu, saat kami semua sudah bosan menunggu, “Sorry ya… anifan ladaina musykilah fi thoriq.” Semuanya bisa memaklumi keterlambatan mereka. Setelah sedikit berjalan dari kuburan pahlawan, kami sampai di buper (bumi perkemahan). Suara air terjun yang bergemuruh terdengar sampai lapangan buper.

Selesai shalat Dzuhur dan makan siang bekal dari pondok, tantangan pertama kami adalah mengunjungi 3 air terjun selain air terjun di dekat lapangan itu.

Bagiku, ini lebih tepat disebut liburan. Melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT di alam meninggalkan kesan istimewa. berjalan di atas pasir berdebu, jalan sempit dan naik turun, tapi itulah titik serunya.

DSCF7877
Foto bareng depan Coban Kodok

Menurutku, Ivanlah yang paling kelelahan. Teman gendutku yang satu ini harus sering-sering berhenti untuk mengistirahatkan perut tambunnya. sesampainya di air terjun, kami semua berfoto berlatarkan air terjun. “Inilah yang disebut “Coban Kodok”. Kata pembina kami, Kak Muslimin. menakjubkan memang, melihat langsung air terjun yang tinggi menjulang dari sisi bawah.

Di air terjun kedua, aku ikut menceburkan diri ke air. ketika hendak pulang, aku menemukan selembar kertas biru di dalam air, “Woi… Limanil fulus…. Limanil fulus?!” kuharap tidak ada yang kehilangan, biar uang itu masuk ke kantongku yang mulai menipis ini, hehe…. Tapi apadayaku, rezeki memang sudah diatur Yang Maha Pemberi Rezeki, ternyata uang itu milik Burhan, kawanku dari Kalimantan.

Jalan menuju air terjun ketiga, adalah menysuri aliran sungai.setelah senang-senang ambil foto dan main air, kami sholat Ashar diatas batu satu-persatu. Ketika aku mulai melangkahkan kaki untuk pulang, tiba-tiba Emir datang dari arah yang berlawanan. ternyata sahabatku dari Lumajang ini tertinggal rombongan saat terpisah untuk buang air besar.

Sesampainya di buper, kami langsung shalat Maghrib, masak, mkan, shalat Isya’. Tantangan ketika masak adalah memasakkan daging sapi untuk pembinanya. Karena kami tak punya minyak, kami pun membakar daging yang dibagikan di perapian. Masakan daging terbaik adalah sangganya Pandu. Tantangan berikutnya akan kami dapat tengah malam nanti. Jadi, kami tidur dulu.

“BANGUN…!!! BANGUN..!!! BANGUN…!!!” Lagi enak-enaknya mimpi, tiba-tiba langsung ditarik berdiri, mataku langsung ditutup kain, tanganku disuruh memegang pundak teman di depanku. Dari suaranya, aku yakin orang yang merusak mimpi indah nan berkesanku tadi adalah salah satu pembinaku, Kak Muksin. Dalam kondisi mata tertutup, aku dan 5 teman satu sanggaku digiring ke suatu tempat.

Tantangan kali ini adalah mencari tanda pangkat BANTARA diantara pepohonan dan rerumputan, dengan mata yang sudah dibuka tentunya. Dengan dibekali sebuah senter, kami mencari tanda pangkat sebanyak dengan jumlah sebanyak anggota sangga kami.

Setelah melapor ke Kak Muslimin yang menjaga tempat kami bermalam, kami dipersilahkan tidur lagi hingga shubuh. Hati kecilku selama ini bertanya kenapa aku malas menunaikan shalat Tahajjud padahal beberapa kali kesempatan itu datang? Sudah lama rasanya aku tidak bersimpuh menghadap Rabbku di malam hari.

Setelah puas tidur beberapa saat, kami bangun untuk sholat Shubuh. Tapi sebelum berwudhu, kami disuruh menceburkan diri di kaki air terjun. Dalam kedinginan pagi itu, kami riuh protes ke Kak Rizal yang tadi menyuruh kami. Pandu pun menggigil saking diginnya, dia loncat-loncat sambil menggosok-gosokkan tubuhnya dengan hasduk pramuka. Salah satu temanku bilang, ” Biasanya di Jakarta super panas, sekarang di sini super dingin.”.

Memang awalnya sih dingin, tapi kami semua dapat menyelesaikan tantangan itu. Atas kesanggupan kami mandi kedinginan itu, setiap sangga diberi satu BANTARA oleh Kak Muchsin. Sangga kami “Pendobrak” sudah menemukan cukup BANTARA, jadi kami memberikan hadiah itu ke sangganya Fajar “Perintis”.

DSCF7923
Sangga “Perintis” sedang memasak mie instan untuk sarapan.

Setelah menunaikan shalat Shubuh, kami masak mie instan. Sementera itu, beberapa teman kami dari sangga yang lain terus mencari BANTARA sampai cukup untuk anggotanya.

DSCF7929
We have been Bantara Scout

Pelantikan dilaksanakan langsung di buper sekitar jam 7 pagi. Pandu mewakili ambalan kami untuk dilantik oleh Kak Muslimin selaku pembina kami.

Setelah pelantikan, kami langsung pulang menuju pondok. Kami pulang sendiri-sendiri, ada yang berjalan kaki, ‘nggandul’ motor orang, ada juga yang naik angkot. Aku sendiri naik angkot hingga sampai pondok pukul 9.15.

Kenaikan pangkat berarti amanah yang kami pikul bertambah berat. Kami harus mempersiapkan diri menjadi pembina Scout PPDU tahun depan, Insya Allah. (mdh/ily)

 

Penulis : M. Dhiyaul Haq

Editor : Abdullah Ilyas Al-Ghazi.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.