Suasana Ujian Calon Santri Daarul Ukhuwwah

Kepadatan Jalan Jagung akan hilir mudiknya transportasi yang hendak parkir ini tidak seperti biasanya, dikarenakan adanya acara besar penerimaan santri baru Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah di tengah mendungnya Hari Ahad, 21 Februari 2016. Pasalnya, rentetan mesin berjalan roda empat itu jumlahnya melebihi tempat parkir yang tersedia di dalam pondok, sehingga amber hingga mangkir didepan halaman rumah warga setempat.

Tahun ajaran kali ini (2016-2017), hampir 200 santri yang mengajukan lamaran penyantrian di “Kampung Damai” dari berbagai berbagai pecahan pulau dan belahan nusantara, semua berkumpul hanya untuk tujuan yang satu yaitu berjihad di jalan Allah. Sayangnya seleksi yang amat  ketat akan menjatuhkan 80 calon pejuang panji-panji islam yang kemungkinan akan terbukti pada pengumuman tanggal 28 Februari 2016.

antri

Alur mengikuti tes bagi santri baru dimulai dari kedatangan di pintu utama, kemudian wali dan santrinya lapor di bagian penerimaan tamu guna mengisi form kehadiran. Kemudian berkumpul di lapangan serba guna untuk mendengarkan sedikit breefing dari ketua dewan PSB 2016-2017, ustadz Muslimin, disusul pembagian nomor peserta. Tesnya sendiri dilaksanakan di ruang kelas 3 dan 4 yang materinya meliputi akademik matematika, tartil & fashohah fi Al-quran, serta wawancara seputar kepribadian atau psikotest. Calon santri baru pun sedikitnya mulai penasaran dan kagum dengan lapangan futsal yang sangat menonjol di depan pintu gerbang utama pondok.

Testing
Di dalam ruang tes : Tes wawancara

Adapun wali santri tidak dibiarkan bengong begitu saja menunggu putranya berjuang memeras pikiran dan bergulat dengan hati kecilnya, mereka juga diharapkan berkumpul di aula kegiatan demi medengarkan taujihat dan pengarahan sistem pendidikan santri selama di pondok agar tidak terjadi kesalah pahaman diantara pihak pondok dan wali santri.

Taujihat
Perkenalan Pondok kepada calon wali santri oleh pimpinan pondok.

Adapun karya santri Daarul ukhuwwah yang sempat tampil salah satunya adalah pioneering, sebuah maha karya dari segenap Praja Muda Karana atau biasa disebut PRAMUKA. Beberapa santri dari bagian kepramukaan yang diprakarsai oleh Akhina Muhammad Sobri Agung Gumelar, santri kelas 4, bekerja keras siang dan malam menyusun tongkat-tongkat pramuka membentuk kerangka tank komander. Jumlah keseluruhan tongkat yang dibutuhkan kurang lebih 50-100 tongkat. Namun yang patut disayangkan, Bentuk dari tank tersebut belum mencapai tingkat Final.” Ini adalah persembahan dari anak pramuka kepada santri baru, bahwasanya pondok kita berbeda dengan pondok yang lain. “ ujarnya kala didatangi oleh beberapa Tim Jurnal.

Penulis : Aorta Abdillah A’la

Admin : DAJ

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.