SHOPPING CART

close

Sebuah Langkah Berani Untuk Masa Depan

Suasana malam kala itu matahari baru saja tenggelam sempurna, langit berubah warnanya dan bulan menghiasi angkasa bersama para bintang. Suara langkah kaki para jam’ah masjid yang baru saja  usai melaksanakan sholat maghrib terdengar begitu ramai. Terlihat juga beberapa orang tua dan pemuda-pemuda yang sedang duduk-duduk bersenda gurau di serambi masjid sengaja menunnggu waktu isya’ tiba.

Di suatu rumah yang jaraknya hanya beberap[a langkah dari masjid itu seorang anak yang sedang asyik memainkan pc miliknya jemarinya lincah menekan tuts keyboard dan tangan kanannya tak kalah lincah menggerakkan mause kesana-kemari menembak musuh yang ia lihat dalam game, begitu larut dalam permainannya hingga tak sadar bahwa waktu maghri telah berlalu.

“Ali!” Teriak seorang wanita memanggil anaknya yang sedang bermain dengan perangkat bermainnya. Ali anak berumur 12 tahun yang sangat ksihan dirinya hanya harus diam di rumah salama dua tahun terakhir ini. Melakukan aktivitas yang berbeda 360 derajat dari kebiasaanya, terpaksa mengikuti protokol-protokaol ketat dan melelahkan akhir-akhir ini ia semakin candu memainkan game-game online bertemu dengan teman baru ‘ online’ dan bermain bersama teman barunya itu.

Saking sikapnya itu membuat ia lalai dan berubah, terkadang ia mulai terlambat untuk datang ke masjid, lalu besoknya menjadi masbuq, besoknya lagi berada di shaf belakang, lusa sholat selesai baru datang, kemudian lupa waktu dan tidak pergi ke masjid. Ibunya yang tak tahan meliaht kelakuan sang buah hati akhirnya bergerak mengingatkannya.

“Udah sholat belum?” Ali yang tetap bergeming memainkan game tidak menoleh sedikitpun. Ibunya yang kesal tidak dijawab setelah tak dijawab setelah tidak menoleh memanggil namanya pun mengambil tindakan mencabut kabal pc yang tersambung dengan stop kontak, yang mematikan paksa permainanya.

“Sontak Ali yang kaget permainannya dimatikan hendak protes ke ibunya.”

“Mama! Kok dimat…..”

“Apa! Sudah berani ngelawan mama kamu? Lihat jam berapa sekarang!” potong sang ibu yang terlanjur marah.

“Udah jam segini masih main terus. Kamu ini udah di kamar terus gak pernah bantiun mama, main game dari pagi sampai malam, belum puas juga! Mamah nggak ngelarang kamu buat main, itu udah hak kamu, tapi gara-gara itu kamu ninggalain kewajiban kamu. Awalnya kamu Cuma telat ke masjid, tapi lama-lama kamu telat sampai ninggalin sholat. Itu sudah nggak bisa mamam toleransi lagi, mama nggak mau kamu nanti jadi anak yang suka ninggalin kewajiban apalagi sholat juga kamu tinggalin.

“Dulu kamu nggak kayak gini Ali, dulu kamu anak mama yang rajin sholat ke masjid. Jadi muadzin habis sholat langsung ngaji. Sekarang kapan mama lihat kamu ngaji setiap habis sholat!?” Ceramah mamanya, Ali yang diceramahi tertunduk di bangkunya tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Ibunya menghela napas panjang, “mama masih percaya kamu bisa berubah nak, mama masih kamu masih bisa rajin sholat rajin ngaji kayak dulu lagi.” Kalimat itu lantas mengakhiri ceramah panjang tersebut, ia tidak ingin menggunakan kata-kata kasar sebagai jalan keluar, tetapi lebih memilih menasehati anaknya dan menyerahkan sisanya kepada Sang Maha Kuasa. Setelah ibu keluar dari pintu Ali kembali menghidupkan perangkatnya dan melanjutkan permainannya, namun kini hatinya gundah karena tidak mengindahkan perkataan sang ibu tadi.

***

Hari itu Ayah yang seharusnya kerja di luar kota datang ke rumah, aku senang karena sudah satu bulan semenjak kedatangannya terakhiria membawa banyak barang dan oleh-oleh buatkudan yang lebih menyenangkan lagi Ayah menginap lumayan lama selama 2 pekan bersama aku dan Mama.

Hari ini seperti biasa aku lalui dengan bermain game dari pagi sampai malam, herannya tidak ada yang protes ataupun memarahiku, yang aku juga heran entah kenapa setelah kemarin terbesit untuk insyah dan menuruti kata mamaku setelah dimarahi tempo hari, tabiat main game-ku tetap kambuh, entah mengapa setelah pagi ini aku iseng membuka aplikasi game online-ku seolah nasihat ibu sirna di belakang begitu saja.

Tetapi disaat aku ingat akan keherananku inilah aku muali benar-benar insyaf, mengingat kembali betapa mama kemarin hanya mengingatkanku tanpa kekerasan membuat aku merasa bersyukur mamaku tidak seperti ibu-ibu teman di sekolahku yang sangat keras kepada anaknya ketika bermain game walau hanya sebentar.

Akhirnya kuputuskan tekad untuk berubah, walau mungkin sudah agak terlambat karena tepat saat ini sudah waktu tarhim menunggu adzan isya’, namun tetap kutekadkan untuk berubah, akhirnya aku matikan perangkat personal computer-ku dan langsung kusambar sarung juga baju koko dan peci melangkah mengambil air wudhu dan pergi ke masjid.

Setelah sholat isya’ berjamaah di masjid aku kembali masuk ke kamarku untuk ganti baju, selepasnya aku duduk di tepi kasur sembari melihat pc-ku sekali lagi, akankah kembali kulanjutkan permainanku yang tadi, ataukah langsung tidur, atau mungkin ke ruang tengah untuk mengajak berbincang ayah dan mama, akupun berpikir sejenak dalam pergolakan pilihan, tak dianya jawaban datang dengan sendirinya di depan pintu kamarku.

Tok Tok Tok. Ketukan pintu kamarku mematahkan kamelud pikiran yang kualami, sontak karena merasa tiba-tiba terhentak aku melangkah bergegas membukakan pintu. Yang ternyata di baliknya ada Ayah, dilihat dari gelagatnya mungkin beliau akan mengajakku berbicara.

“Maaf bisa keluar sebentar Ali! Ayah mau bicara sebentar sama kamu.” Dugaanku benar ayah memang ingin mengajakkku untuk berbincang.

Setelah menggeser tempat menuju ruang tamu yang di sana juag ada mama, Ayahku pun memulai percakapan.

“Ali, Ayah ingin tanya ke kamu sekarang umurmu sudah berapa tahun?” Tanya Ayah yang membuatku bingung untuk menjawab.

“Ehmm, sudah dua belas tahun yah.” Jawabku kikuk sadanya.

“Kalau tahun ini masuk umur yang keberapa?”

“Kalau yang tahun ini jadinya yang ketiga belas yah.” Jawabku.

“Hmm, sudah cukup itu, jadi begini Ali. Ayah dan Mama sudah ngerencanain sesuatu ke kamu untuk ke depannya….” Kata Ayah. Aku menatap kedua orang tuaku yang duduk di depan diriku.

“Jadi begini Ayah sama mama sudah ngerencanain kamu untuk mondok di Pesantren.” Lanjut Ayahku.

Aku pun sedikit begeming dan mematung, pasalnya kata-kata mondok sudah tidak lagi asing di telingaku, karena ada sebagian dari temanku yang juga ingin melanjutkan sekolahnya ke Pesantren setelah lulus dari sekolah dasar ada yang bilang di sana kerjaannya disuruh untukmenghafal al-quran, juga ada yang bilan di sana nggak Cuma menghafal al-quran doang, ada yang bilang disana serba susah dan ngebosenin karena nggak dibolehin bawa hape buat main game online, dan  berbagai pendapat lain dar teman-temanku yang ada di sekolah.dan kesimpulanku Pondok Pesantren adalah tempat yang membosankan dan paling tidak ingin aku masuki.

“Aku izin kembali ke kamar dulu Yah, Mah, aku Ali pikir-pikir lagi jawabannya.” Putusku kepada mereka.

Sebelumnya obrolan sempat berlanjut dengan keberatanku terhadap Ayah dan Mama perihal keputusan ini, tetapi meskipun demikian hasilnya nihil, kedua orangtuaku tetap bersikeras ingin memondokkanku, setelah memasuki kamar aku pun kembali duduk di tepi kasur seperti saat selesai sholat isya’. Kupandangi seluruh isi kamarku, mulai dari almari pakaiaan, meja belajar, perangkat komputerku, dan rak buku yang penuh berjejal dengan berbagai bahan bacaan yang dibelikan Ayah setiqp selesai pulang dinas luar kota. Kupandang buku-buku itu satu persatu yang rata-rata sebagian besarnya berisi novel yang telah rampung kuselesaikan. Tiba-tiba pandanganku berhenti pada sebuah buku yang nampaknya bersampul keras, tanpa pikir panjang karena penasaran aku beringgsut mendekati rak bukuku, Ketika tanganku mulai menariknya kelura dari rak ternyata firasatku sedikit benar, suatu benda yang lama kutinggal kan dan teralihkan oleh benda lain, tapi kini aku benar-benar ingat kepadanya, mushaf Quran yang telah lama tidak aku baca… (Bersambung)

Oleh : Ghozi

Tags:

0 thoughts on “Sebuah Langkah Berani Untuk Masa Depan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Info Pendaftaran? Chat with us